Lihatlah kebawah, ada kaki yang menjerit !
Terkadang terlintas, seraya tangan saya memgenggam, saya masih bisa makan enak, bernafas bebas, berjalan sesuka hati entah itu melompat, melangkah ataupun berlari, saya masih bisa menikmati sejuknya air, menggunakan tekhnologi, saya masih bisa melihat orang-orang yang saya cintai , "alhamdulillah" itu saja yang saya dapat uacapkan sebagai wujud rasa syukur seorang hamba yang lemah, yang tidak memiliki kehebatan apapun tanpa se-izin pemilik raga ini.
Saya suka membayangkan hal-hal yang tidak menyenangkan yang terjadi pada orang lain, terjadi pada diri saya sendiri, kita pun tidak pernah tau apa yang akan kita alami entah baik ataupun buruk. Pada dasarnya jika saya fikir-fikir lagi saya ini orang yang sangat sangat sangat beruntung! Coba saya lihat orang yang tidur dijalanan, mereka yang tidak bersekolah karena kurang biaya, mereka yang terbaring lemas dirumah sakit, orang-orang yang cacat fisik, sedangkan saya tidak jarang ingin mengubah apa yang sudah Allah berikan kepada saya, sering malas belajar padahal di luar sana ada yang ingin sekali duduk rapi di sebuah ruangan, mebaca buku dan memegang bolpoint, saya masih bisa makan semuanya tanpa harus takut darah tinggi ataupun kadar glukosa dalam tubuh saya meningkat drastis yang akan menyebabkan kematian, saya masih bisa tidur diatas kasur lengkap dengan selimut jika saya kedinginan, saya memiliki tangan utuh yang dapat dengan bebas digunakan untuk membantu orang, kurang apa sebenarnya ? Semua nyata sempurna.
Seharusnya saya lebih giat bersyukur, berubah menjadi insan yang lebih baik, mencoba untuk meresapi kehidupan, untuk tetap peduli pada semua orang. Alhamdulilah, saya masih diberi waktu, masih diberi kesempatan , masih diberi rezeki, saya bisa menulis ini.
"Hidup adalah Pejalanan" begitu kata sang penyair.
Teruntuk kedua kaki, maafkan jiwa ini yang selalu memaksamu untuk terus melangkah, terhentak untuk berlari secara tiba-tiba.
Teruntuk hati, tetap semangat untuk selalu bersabar, menerima yang tak sejalan, mencintai kebencian, semoga kau selalu sehat agar jiwa ini tetap memiliki perasaan .
Teruntuk mata, jangan pernah lelah melihat dan bosan membaca ayat kitab suci, walau kadang terkalahkan oleh rasa lelah dan kantuk.
Teruntuk kedua tangan, teruslah menari bersama pena, meringkas dan mencatat kehidupan yang indah dengan penuh rasa syukur.
Teruntuk fikiran yang tidak pernah mengeluh, terima kasih tidak pernah meronta.
Sehat lah terus jiwa, jadilah bagian dari jiwa-jiwa yang suci.
Kuat lah, walau jam tidur mu berkurang.
Percayalah, bahwa kelelahan akan terasa nikmat jika kau menerima semua dengan hati yang yang tulus.
8:02 malam.
Komentar
Posting Komentar